Aksara Bali: Mengenal Sejarah, Jenis, dan Jumlahnya

0
481
Aksara Bali ditulis dalam lontar
Aksara Bali ditulis dalam lontar

Aksara Bali banyak digunakan oleh masyarakat Bali sebagai aksara tradisional yang merupakan abugida berdasarkan pada huruf Pallawa. Aksara ini sebenarnya cukup mirip dengan aksara Jawa. Yang membuatnya berbeda ada di lekukan pada tiap bentuk hurufnya.

Sejak bulan Oktober 2018 lalu, aksara yang mirip dengan aksara jawa ini wajib digunakan di kantor pemerintah dan swasta di seluruh Provinsi Bali terkait dikeluarkannya Peraturan Gubernur tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali dan juga terkait Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

Asal Usul dan Sejarah

Aksara ini berkembang seiring dengan masuknya Agama Hindu dan Budha ke Indonesia. Keistimewaan dari aksara ini tidak hanya pada penggunaan pada karya sastra melainkan juga lambang suci yang kaitannya sangat erat dengan ajaran agama Hindu di Bali.

Dalam buku karya I.B. Made Suasta yang berjudul Modernisasi dan Pelestarian Perkembangan Metode dan Teknik Penulisan Aksara Bali dikemukakan bahwa aksara yang kerap digunakan oleh umat Hindu di Bali ini sangat berkaitan dengan perkembangan aksara di India.

Aksara India
Aksara India via brainly.co.id

India yang menganut agama Hindu, membawa aksara ini ke Indonesia melalui politik perluasan koloni, agama, perdagangan, serta kebudayaan. Dalam kebudayaan India sendiri dikenal ada aksara tertua yang disebut Karosthi yang di mana kemudian berkembang kembali menjadi aksara Dewonegari dan aksara Pallowo.

Di India bagia Utara, aksara Dewanagari banyak digunakan untuk menulis bahasa Sansekerta sementara di India bagian Selatan menggunakan aksara Pallawa. Kedua aksara ini masuk ke Indonesia melalui Kerajaan Sriwijaya. Kemudian memberi pengaruh sejalan dengan perkembangan agama Hindu dan Budha di Indonesia

Dalam perkembangannya di Indonesia, kedua aksara ini kemudian bertransformasi dalam bentuk baru yang disebut dengan aksara Kawi. Menurut Made Suasta, dari aksara Kawi ini terjadilah perkembangan menjadi aksara Jawa dan Bali.

Jenis Berdasarkan Bentuk dan Fungsi

Tulisan Bali dapat dibagi menjadi tiga berdasarkan kesamaan bentuk. Pertama merupakan bentuk dasar yang biasa disebut dengan bentuk pangawak. Kemudian aksara bentuk turunan yang berasal dari aksara pangawak yang diubah jadi bentuk gempelan dan pangangge. Dan yang Terakhir adalah aksara dengan bentuk lambang-lambang.

Jika ditinjau dari fungsinya, dapat dikelompokkan menjadi dua yakni aksara suci dan aksara biasa.

Aksara suci digunakan untuk menulis sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan, seperti weda, japa mantra, dan rerajahan. Aksara suci ini dibagi menjadi dua yaitu aksara Wijaksara dan aksara Modre. Aksara Wijaksara dapat digunakan untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Sementara Modre, untuk menulis hal-hal yang bersifat magis.

Sedangkan aksara biasa digunakan untuk menulis bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menuliskan karya sastra. Ada dua aksara biasa yaitu aksara Wreastra dan juga aksara Swalelita. Wreastra digunakan untuk menulis bahasa Bali umum. Sedangkan Swalelita untuk menulis bahasa Sansekerta.

Jumlah Aksara Berdasarkan Jenisnya

Jumlah atau banyaknya karakter di dalam aksara atau tulisan Bali tergantung dari jenisnya. Contohnya seperti aksara Wreastra yang terdapat 18 buah aksara di dalamnya yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya, yang merupakan konsonan. Sedangkan aksara Swalelita memiliki 47 aksara yang terdiri dari aksara suara 14 buah dan aksara konsonan sebanyak 33 buah.

via jawapos.com

Sementara aksara Wijaksara lebih rumit lagi. Aksara jenis ini memiliki lebih dari 60 buah aksara. Kemudian aksara Modre, aksara yang paling sulit dibaca karena aksara ini dilambangkan dengan gambar-gambar tertentu.