Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Bagi Umat Hindu Bali

0
142
Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Tinggal menunggu beberapa hari lagi, umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Galungan jatuhnya setiap Budha Kliwon wuku Dungulan, yang akan jatuh pada tanggal 4 Januari 2023. Begitu juga dengan hari Raya Kuningan, yang jatuhnya pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan, tepat 10 hari setelah hari raya Galungan dan jatuh pada tanggal 14 Januari 2023. Lalu, apakah sebenarnya makna hari raya Galungan dan Kuningan?

Makna dari hari raya Galungan dan Kuningan

Makna Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan adalah hari di mana kita merayakan kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan aDharma (Keburukan), di mana saat Budha Kliwon wuku Dunggulan kita merayakan dan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Penjor
Penjor Galungan depan Rumah – Image via pikiranrakyat.com

Intinya Galungan adalah bagaimana kita menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.

Nah biasanya saat hari Raya Galungan, beragam makanan khas Bali akan tersaji di setiap rumah.

Parisadha Hindu Dharma menyebutkan, upacara Galungan memiliki arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Bukan berarti bahwa Bumi/Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan supaya umat Hindu di Bali menghaturkan rasa terima kasihnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Dan pada saat hari raya Galunganlah para umat bersyukur atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Makna Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan jatuh pada hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan. Saat hari raya Kuningan umat Hindu di Bali melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, perlindungan dan tuntunan baik secara lahir maupun batin.

Mapeed
Tradisi mepeed – Image via acaraevent.com

Pada pada saat Kuningan diyakini para Dewa, Bhatara, diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan dilakukan sampai tengah hari saja.

Beberapa perlengkapan Hari Kuningan yang khas yaitu Endongan sebagai simbol persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Tamyang sebagai simbol penolak marabahaya. Kolem sebagai simbol tempat peristirahatan Sang Hyang Widhi, para Dewa dan leluhur kita.

Di hari Rabu Kliwon, bertepatan dengan wuku Pahang, merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan atau disebut dengan hari Pegat Wakan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini berupa panyeneng, sesayut Dirgayusa, tatebus kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan selama 42 hari lamanya, terhitung sejak hari Sugihan Jawa.

Jadi intinya, makna hari raya Kuningan adalah memohon keselamatan, perlindungan dan tuntunan lahir bathin kepada para Dewa, Bhatara, dan para Pitara.